SEJARAH HALMAHERA SELATAN

Sejarah Kabupaten Halmahera Selatan berawal dari sejarah tentang “Jazirat al-Mulk”, yaitu nama kepulauan di ufuk timur bagian utara dari kepulauan Indonesia. Istilah “Jazirat al-Mulk” yang diberikan para saudagar Arab ini mempunyai arti: negeri raja-raja. Selain itu, dikenal juga, istilah “Jazirah tuil Jabal Mulku“ dengan Pulau Halmahera sebagai pulau induk di kawasan ini.

Dari kata Muluk dan Mulku inilah yang kemudian menjadi Moluco menurut ucapan dan outografi orang Portugis, Moluken menurut orang Belanda dan terakhir orang Indonesia sendiri menyebutnya Maluku.

Catatan sejarah tentang “Jazirah tuil Jabal Mulku“ berlanjut dengan kemunculan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yang terdiri atas:

1. Kesultanan Bacan

2. Kesultanan Jailolo

3. Kesultanan Tidore

4. Kesultanan Ternate

Bacan, arti harfiahnya adalah:(mem-) baca. Kesultanan Bacan adalah suatu kerajaan yang berpusat di Pulau Bacan, Kepulauan Maluku. Sultan Bacan yang pertama adalah Sultan Muhammad Bakir yang berkuasa pada tahun 1235 hingga 1265 dan telah memeluk agama Islam, yang memindahkan pusat kesultanannya dari Pulau Makian ke Pulau Kasiruta. Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, pusat pemerintahan Kesultanan Bacan dipindahkan dari Pulau Kasiruta ke Pulau Bacan hingga saat ini. Meski berada di Maluku, wilayahnya cukup luas hingga ke wilayah Papua.

ultan Ternate yaitu Sultan Mudaffar Syah menyatakan bahwa makna dari “bacan” atau “mem-baca” adalah memasukkan sesuatu, atau usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk menjadi pengetahuan. Makna tersebut tidak bisa dilepaskan juga dengan tugas dan fungsi Sultan Bacan dalam Kesultanan Moloku Kie Raha yaitu memasok logistik.